Total Tayangan Halaman

Kamis, 06 Januari 2011

KOTA BATAM

SEJARAH SINGKAT KOTA BATAM

Batam merupakan salah satu pulau yang berada di antara perairan Selat Malaka dan Selat Singapura. Tidak ada literatur yang dapat menjadi rujukan dan mana nama Batam itu diambil, yang jelas Pulau Batam merupakan sebuah pulau besar dan 329 pulau yang ada di wilayah Kota Batam. Satu-satunya sumber yang dengan jelas menyebutkan nama Batam dan masih dapat dijumpai sampai saat mi adalah Traktat London (1824). Penduduk asli Kota Batam diperkirakan adalah orang-orang Melayu yang dikenal dengan sebutan Orang Selat atau Orang Laut. Penduduk ini paling tidak telah menempati wilayah itu sejak zaman kerajaan Tumasik (sekarang Singapura) dipenghujung tahun 1300 atau awal abad ke-14. Malahan dan catatan lainnya, kemungkinan Pulau Batam telah didiami oleh orang laut sejak tahun 231 M yang di zaman Singapura disebut Pulau Ujung. Pada masa jayanya Kerajaan Malaka, Pulau Batam berada di bawah kekuasaan Laksamana Hang Tuah. Setelah Malaka jatuh, kekuasaan atas kawasan Pulau Batam dipegang oleh Laksamana Hang Nadim yang berkedudukan di Bentan (sekarang P. Bintan). Ketika Hang Nadim menemui ajalnya, pulau ini berada di bawah kekuasaan Sultan Johor sampai pada pertengahan abad ke.18. Dengan hadirnya kerajaan di Riau Lingga dan terbentuknya jabatan Yang Dipertuan Muda Riau, maka Pulau Batam beserta pulau-pulau lainnya berada di bawah kekuasaan Yang Dipertuan Muda Riau, sampai berakhirnya keraj aan Melayu Riau pada tahun 1911.

Di abad ke-18, persaingan antara Inggris dan Belanda amatlah tajam dalam upaya menguasai perdagangan di perairan Selat Melaka. Bandar Singapura yang maju dengan pesat, menyebabkan Belanda berusaha dengan berbagai cara menguasai perdagangan melayu dan perdagangan lainnya yang lewat di sana. Hal ini mengakibatkan banyak pedagang yang secara sembunyi-sembunyi menyusup ke Singapura. Pulau Batam yang berdekatan dengan Singapura, amat bermanfaat bagi pedagang-pedagang untuk berlindung dan gangguan patroli Belanda. Pada abad ke-18, Lord Minto dan Raffles dan kerajaan Inggris melakukan Barter dengan pemerintah Hindia Belanda sehingga Pulau Batam yang merupakan pulau kembar dengan Singapura diserahkan kepada pemerintah Belanda.

GEOGRAFIS KOTA BATAM

Letak Kota Batam terletak antara :

0°.25'29'' - 1°.15'00'' Lintang Utara, 103°.34'35'' - 104°.26'04'' Bujur Timur

Batas Kota Batam berbatasan dengan :

  1. Sebelah Utara Selat Singapura
  2. Sebelah Selatan Kecamatan Senayang
  3. Sebelah Timur Kecamatan Bintan Utara
  4. Sebelah Barat Kabupaten Karimun dan Moro Kabupaten Karimun

Geologi
Wilayah kota Batam seperti halnya Kecamatan-Kecamatan di daerah Kabupaten di Kepulauan Riau, juga merupakan bagian dari paparan Kontinental. Pulau-pulau yang tersebar didaerah ini merupakan sisa-sisa erosi atau penyusutan dari daratan pra tersier yang membentang dari semenanjung Malaysia/ pulau Singapore di bagian utara samapi dengan pulau-pulau Moro dan Kundur serta karimun di bagian selatan. Permukaan tanah di kota batam pada umumnya dapat digolongkan datar dengan variasi disana-sini berbukit-bukit dengan ketinggian maksimum 160 m diatas permukaan laut. Sungai-sungai kecil banyak mengalir dengan aliran pelan dan dikelilingi hutan-hutan serta semak belukar yang lebat

Fisiografi
Wilayah kota Batam terdiri dari 329 buah pulau besar dan kecil, yang letak satu dengan lainnya dihubungkan dengan perairan. Pulau-pulau yang tersebar pada umumnya merupakan sisa-sisa erosi atau pencetusan dari daratan pratersier yang membentang dari Semenanjung Malaysia di bagian utara sampai dengan Pulau Moro, Kundur, serta Karimun di bagian selatan.

Permukaan tanah di kota batam pada umumnya dapat digolongkan datar namun disana-sini berbukit-bukit, berbatu muda dengan ketinggian maksimum 160 meter di atas permukaan laut. Sungai-sungai kecil banyak mengalir dengan aliran pelan yang dikelilingi hutan-hutan serta semak belukar yang lebat. Dilihat dari perputaran arus yang ada maka perairan di kota Batam yang berada di selat malaka ini merupakan daerah subur bagi kehidupan perikanan dan biota lainnya. Perairan Kota Batam merupakan wilayah ekosistem perikanan Kepulauan Riau yang dipengaruhi oleh gerakan air yang berasal dari Samudera Hindia yang melewati Selat Malaka dan gerakan arus yang berasal dari laut Cina Selatan. Dalam ekosistem di wilayah kota batam ditemukan satwa liar yang terdiri dari 8 (delapan) jenis kelas mamalia, 16 (enam belas) heasevas dan partilia. Tipe habitat yang digunakan satwa liar ini yaitu : pantai, mangrove, rawa/danau, lading/kebun, hutan sekunder dan hutan primer.

Iklim
Kota Batam mempunyai iklim tropis dengan suhu minimum pada tahun 2006 berkisar antara 21,2 C – 24,0 C dan suhu maksimum berkisar antara 29,6 C-34,1 C, sedangkan suhu rata rata sepanjang tahun 2006 adalah 25,6 C - 27,8 C. Keadaan tekanan udara rata rata untuk tahun 2006, minimum 1.006,14 MBS dan maksimum 1.014,1 MBS. Sementara kelembaban udara di Kota Batam rata rata berkisar antara 79 – 86 %. Dan kecepatan angin maksimum 15 - 28 knot atau rata rata kecepatan angin maksimal sebesar 4.5 knot. Banyaknya hari hujan selama setahun di Kota Batam pada tahun 2006 adalah 208 hari dan banyaknya curah hujan setahun 2.964,7 mm .

  1. Pulau Batam, 415 Km2 (41.500 Ha) = 67% Luas Singapura.
  2. Singapura, terletak 20 Km disebelah Barat Laut pulau Batam, luas 620 Km2 (62.000 Ha).
  3. Pulau Bintan, terletak 10 Km di sebelah Timur pulau Batam, luas 1.100 Km2 (110.000 Ha) = 117% Luas Singapura.
  4. Pulau Natuna, terletak 550 Km disebelah Timur Laut pulau Batam,luas 1.720 Km2 (172.000 Ha) = 277% Luas Singapura.
  5. Pulau Bulan, terletak 2.5 Km di sebelah Barat Daya pulau Batam, luas 100 Km2 (10.000 Ha) = 16% Luas Singapura.
  6. Pulau Rempang,terletak disebelah Tenggara pulau Batam, luas 165.83Km2 (16.583 Ha) = 27% Luas Singapura.
  7. 7. Pulau Galang Baru, terletak 180 m disebelah Selatan pulau Galang,luas 32 Km2 (3.200 Ha) = 5.2% Luas Singapura.
  8. Pulau Galang, terletak 350 m disebelah Tenggara pulau Rempang, luas 80 Km2 (8.000 Ha) = 13% Luas Singapura.
  9. Wilayah Barelang, Pulau Batam, pulau Rempang, pulau Galang dan pulau-pulau disekitarnya 715 Km2 (71.500 Ha) = 115% Luas Singapura.

DEMOGRAFIS KOTA BATAM

Di dalam Garis-garis Besar Haluan Negara dinyatakan bahwa jumlah penduduk yang besar baru menjadi modal dasar yang efektif bagi pembangunan Nasional hanya bila penduduk yang besar tersebut berkualitas baik. Namun dengan pertumbuhan penduduk yang pesat sulit untuk meningkatkan mutu kehidupan dan kesejahteraan secara layak dan merata. Program kependudukan di Kota Batam seperti halnya di daerah Indonesia lainnya meliputi, pengendalian kelahiran, penurunan tingkat kematian bayi dan anak, perpanjangan usia harapan hidup, penyebaran penduduk yang seimbang serta pengembangan potensi penduduk sebagai modal pembangunan yang terus ditingkatkan. Sejak Pulau Batam dan beberapa pulau disekitarnya dikembangkan oleh Pemerintah Republik Indonesia manjadi daerah Industri, Perdagangan, Alih kapal dan Pariwisata serta dengan terbentuknya Kotamadya Batam tanggal 24 Desember 1983, laju pertumbuhan penduduk terus mengalami peningkatan dimana dari hasil sensus penduduk rata-rata pertahunnya selama periode 1990-2000 laju pertumbuhan penduduk Batam rata-rata sebesar 10,59 persen. Namun sejak pelaksanaan Perda Kota Batam Nomor 2 Tahun 2001, laju pertumbuhan penduduk Kota Batam dari tahun 2000-2008 rata-rata sebesar 8,60 persen. Penduduk Kota Batam berdasarkan tahun 2008 tercatat sebesar 889.502 jiwa terdiri atas 448.594 jiwa laki-laki dan 440.908 jiwa perempuan dengan sex ratio 101,74. Penduduk Kota Batam sampai dengan September 2008 berjumlah 932.892 jiwa.

Dari jumlah penduduk tersebut tersebar di duabelas kecamatan dan 64 kelurahan. Hanya penyebarannya tidak merata sehingga mengakibatkan kepadatan penduduk per Km2 didaerah ini bervariasi.

SARANA-SARANA DI KOTA BATAM

TRANSPORTASI DI KOTA BATAM

Transportasi merupakan sarana penunjang mobilitas, dimana masyarakat Batam dapat menggunakan fasilitas kendaraan umum seperti taksi, bis, ojek, pancung. Selain transportasi darat, Batam yang merupakan daerah kepulauan, transportasi laut merupakan salah satu sarana yang penting. Penggunaan transportasi darat yang seperti taksi yang berbeda dengan daerah lain yakni tidak menggunakan argo serta penggunaan angkutan per jalur tertentu.

Penggunaan jalur laut yang menghubungkan Batam dengan pulau-pulau disekitar maupun dengan negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia, membuat pembangunan dan sarana transportasi laut cukup lengkap. Selain itu, Jalur udara juga menjadi andalan bagi masyarakat Batam untuk bepergian. Hampir seluruh maskapai penerbangan membuka rute Batam dengan kota-kota besar yang ada di Indonesia, sehingga mobilitas penduduk dapat teratasi dengan baik serta sarana pendukung yang memadai seperti jalan,lapangan terbang maupun pelabuhan.

(www.batamkota.go.id)

OBJEK – OBJEK WISATA DI KOTA BATAM

PANTAI MELUR

Terletak di Pulau Galang. Pantai ini bukan sekedar objek wisata bahari yang bisa dinikmati keindahannya. Tetapi pantai ini memiliki segudang cerita sejarah dari para pengungsi Vietnam yang terkenal dengan sapaan Manusia Perahu, ketika terdampar di Pulau Batam. Letak pantai iini hanya satu Kilometer dari kawasan wisata bekas perkampungan Vietnam yang juga terletak di Pulau Galang.

Mengunjungi Pantai ini, bukan hanya keindahan dan cerita sejarah yang didapat, tapi selama dalam perjalanan dari pusat kota Nagoya ke sana, Anda akan melewati lima jembatan kebanggaan Batam bernama Barelang 1, 2,3,4 dan 5. Tentu saja, di sekeliling jembatan pulau – pulau utama milik kota Batam memberikan pemandangan yang menakjubkan. Anda tidak ubahnya melihat sebuath lautan biru yang di hiasi pulau – pulau kecil.

Lokasi yang terletak di Pulau Galang ini memiliki kelebihan seperti Obyek Wisata Pantai Melur saat ini banyak dikunjungi wisatawan local. Lokasi obyek wisata berdekatan dengan kawasan wisata Camp Vietnam pulau galang dan jembatan Tuanku Tambusai. Kondisi Pantai cukup landai berpasir putih halus dengan lebar pantai 20-30 meter , sedangkan panjangnya kira-kira mencapai 100 – 200 meter. Atraksi wisata bahari yang digemari wisatawan , antara lain berenang dan berlayar .
Jika hendak mengunjugi lokasi ini Lokasi wisata ini dapat dicapai dari Nagoya melalui trans Berelang berkisar 60 – 90 menit.

http://batambox.com/featured/pantai-melur/

PANTAI MARINA BATAM

Sebagai kota yang memiliki 345 pulau – pulau kecil, pantai adalah objek wisata utama yang ditawarkan. Di Pantai Marina, anda bukan hanya akan mendapatakan keindahan pemandangan, tetapi juga ombak laut yang tenang akan menimbulkan suasana rileks saat berenang, bermain pasir, dan melakukan berbagai aktivitas air. Pantai Marina terletak di dalam kawasan wisata terpadu Marina Water Front City. Di kawasan ini terdapat resort ternama dan mewah yang di dalamnya terdapat permainan-permainan olahraga. Bagi anda yang penghobi bowling, gocart, dan aeromodeling juga bisa berlatih di lintasan yang telah disediakan. Yang tidak kalah seru, Anda dapat mencicipi aneka masakan seafood segar yang dimasak dengan resep koki berpengalaman. Beberapa menu seafood menjadi masakan khas Batam. Ikan, udang, kepiting, cumi dan hewat laut lainnya didapat dari para nelayan di sekitar tempat wisata ini. Lokasi yang terletak di Tanjung Riau – Sekupang ini memiliki kelebihan seperti Kawasan Pantai Marina dibangun dengan konsep pengembangan kota tepi pantai ( water front city). Atraksi wisata Bahari yang ditawarkan : Banana, Boat, Parasailing, Jetsky, dll.

Jika hendak mengunjugi lokasi ini Obyek Wisata ini berlokasi di Tanjung Riau ( Pulau Batam ) yang dapat dicapai dari Nagoya berkisar 20-30 menit dengan menggunakan Taksi, bahkan terdapat pelabuhan Internasional jika anda datang dari Singapura.

http://batambox.com/featured/pantai-marina/

JEMBATAN TENGKU FISABILILLAH

Jika Malaysia identik dengan Petronas, S’pore identik dengan Merlion, maka Batam identik dengan Jembatan Berelang. Memang tidak bisa dipungkiri, jembatan dengan panjang 642 meter ini tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Batam, namun juga menjadi kebanggaan masyarakat Kepulauan Riau pada umumnya. Nama lain dari Jembatan Tengku Fisabilillah ini adalah induk dari 6 rangkaian jembatan yang menghubungkan Pulau Batam, Rempang dan Galang(Barelang). Untuk mencapainya, Anda bisa menempuh dengan bus kota dari berbagai halte bus di Batam kurang lebih lama perjalanan 40 menit. Namun jika Anda ingin lebih privat dan santai, Anda bisa menyewa taksi dengan tarif sekitar Rp. 60.000,- untuk perjalanan pergi-pulang. Banyak tersedia jajanan rakyat disana, seperti misalnya jagung bakar hingga ikan bakar.

EKS PENGUNGSI VIETNAM

Tiga Puluh Emapat tahun silam, Pulau Galang, pulau kecil di kawasan Batam menjadi perhatian dunia. Ribuan manusia perahu asal Vietnam yang mendiami Pulau Galang menolak dipulangkan kembali ke negeri asalnya. Selama 21 tahun berada di Pulau Galang (1975-1996), para pengungsi tersebut telah menyatu dengan kondisi alam yang mereka diami. Pada awal kedatangan manusia perahu diperkirakan hanya sekitar 45.000 jiwa. Ribuan orang lainya terpaksa tidak bisa menikmati kebebasan karena maut keburu menjemput ketika mereka mengarungi samudera engan perahu seukuran perahu nelayan tradisional. Selama mendiami Pulau Galang mereka telah beranak-pinak hingga terdata 250.000 jiwa. Ribuan lainnya telah tutup usia dan dimakamkan di kawasan eks pengungsian Vietnam yang kini disulap menjadi cagar budaya di Batam.

(By Kepri The Beauty Of Nature)

MAKAM TEMENGGUNG

Lokasi yang terletak di Pulau Bulang Lintang ini memiliki kelebihan seperti Makam Temenggung Abdul Jamal yang terletak di Pulau Bulang Lintang dimana jika hendak kesana harus ditempuh dengan menggunakan pancung dari Pelabuhan Sagulung dengan jarak tempuh lebih kurang 20 menit. Temenggun Abdul Jamal merupakan salah satu Temenggung pada masa Kerajaan Riau-Lingga-Johor. Disamping makam-makam itu juga terdapat beberapa makam lain yang diperkirakan makam keluarga Temenggung Abdul Jamal, antara lain istrinya Raja Maimunah.

(www.batamkota.go.id)

MEGA WISATA GOLDEN CITY

Satu lagi kawasan mega wisata keluarga hadir di Kepulauan Riau, tepatnya berada di Bengkong Laut, Batam. Menempati kawasan seluas 10 Ha, kawasan mega wisata Golden City menghadirkan seabreg obyek wisata unggulan untuk Anda. Cheng Ho Cruise (kapal Cheng Ho) mengajak Anda romantic dinner sembari berlayar. Anda ingin menjelajah Indonesia? Miniatur Indonesia membuat Anda bak berkeliling Indonesia sekaligus menghadirkan wisata edukasi untuk buah hati Anda tercinta. Water Boom menantang adrenalin Anda ditengah segarnya deburan air. Anda suka kebut-kebutan? Gokart menjawab hobbi Anda. Pasar Malam Tradisional dan Panggung Wisata Budaya Nusantara menghadirkan pagelaran seni dan budaya dari Sabang sampai Marauke. Tidaj itu saja! Kawasan Golden City adalah kawasan mega wisata keluarga terlengkap di Batam, Hotel bintang emapat Golden View dan restaurant seafood nomor satu di Batam, Golden Prawn akan lebih memanjakan liburan Anda dan keluarga. Itulah Golden Package yang dihadirkan Golden City untuk Anda.

(By Kepri The Beauty Of Nature)

KOTA TANJUNGPINANG

Sejarah Singkat Kota Tanjungpinang

Tanjungpinang telah dikenal sejak lama. Hal ini disebabkan posisi yang trategis di pulau Bintan sebagai pusat kebudayaan melayu dan lalu lintas perdagangan.

Keberadaan Tanjungpinang semakin dikenal pada masa keraajaan Johor pada masa Sultan Abdul Jalil Syah yang memerintahkan Laksamana Tuan Abdul Jamil untuk membuka suatu Bandar perdagangan yang terletak di Pualu Bintan tepatnya di Sungai Carang, hulu sungai Riau. Bandar yang baru tersebut menjadi Bandar yang ramai yang kemudian di kenal dengan Bandar Riau. Peranan Tanjungpinang sangat penting sebagai kawasan penyangga dan pintu masuk Bandar Riau.

Keberadaan Tanjungpinang semakin diperhitungkan pada perinstiwa perang Riau pada tahun 1782-1784 anatara kerajaan Riau dengan Belanda. Pada masa pemerintahan yang dipertuan Muda Raja Haji Fisabilillah.

Peperangan selama 2 tahun ini mencapai puncaknya pada tanggal 6 Januari 1784 dengan kemenangan pada pihak kerajaan Melayu Riau yang ditandai dengan hancurnya kapal komando Belanda ‘Malaka’Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Wal Faren’. Dan mendesak Belanda untuk mundur dari perairan Riau. Bersempeda peristiwa tersebut 6 januari diabadikan sebagai j\hari jadi Tanjungpinang.

Selama peperangan tersebut, yang dipertuan Muda Raja Haji Fisabilillah, mendirikan benteng pertahanan di Pulau Penyengat. Pualu Penyengat adalah sebuah pulau kecil yang berjarak kurang lebih 6 km dari kota Tanjungpinang Ibukota Provinsi Kepulauan Riau. Pulau ini berukuran kurang lebih hanya 2500 x 750 m. Pulau ini letaknya sangat strategis sebagai benteng pertahanan.

(By Profil Kota Tanjungpinang 2009)

Geografis Kota Tanjungpinang

Jumlah penduduk di Kota Tanjungpinang yang berada di Pulau Bintan menembus angka 182.741 jiwa pada tahun 2008. Yang berada letak geografis berada pada 00 51’ samapai dengan 00 59’ Lintang Utara dan 1004 023’ sampai dengan 104 034’ Bujur Timur dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :

  • Sebelah Utara : Kecamatan Bintan Utara Kabupaten Kepulauan Riau dan Kota Batam
  • Sebelah Selatan : Kecamatan Bintan Timur Kabupaten Kepulauan Riau
  • Sebelah Barat : Kecamatan Galang Kota Batam
  • Sebelah Timur : Kecamatan bintan Timur Kabupaten Kepulauan Riau

Secara administrasi kota Tanjungpinang dibagi menjadi 4 kecamatan, yaitu Kecamatan Bukit Bestari, Kecamatan Tanjungpinang Timur, Kecamatan Tanjungpinang Kota dan Kecamatan Tanjungpinang Barat.

(By Profil Kota Tanjungpinang 2009)

Demografis Kota Tanjungpinang

Penduduk merupakan modal dasar pembangunan suatu daerah bila SDM nya berkualitas baik. Sebaliknya penduduk yang besar akan menjadi beban pembangunan jika laju pertumbuhannya tinggi, tidak terkendali dan kualitasnya rendah. Hal ini akan menyebabkan ketidakseimbangan antara jumlahnya yang besar dengan daya dukung lingkungan.

Kota Tanjungpinang yang merupakan pusat perekonomian, pendidikan dan pusat pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, menjadi daya tarik tersendiri bagi pencari kerja, sehingga jumlah penduduk setiap tagunnya terus meningkat.

  • Jumlah angkatan kerja Kota Tanjungpinang yaitu 78.040 jiwa.
  • Jumlah penduduk yang sedang mencari pekerjaan yaitu 7.559.
  • Jumlah penduduk yang berstatus pengangguran yaitu 47.825 antara lain : masih sekolah, pengurus rumah tangga dan lain-lain.
  • Jumlah penduduk usia diatas 15 tahun keatas yaitu 125.865

Penduduk usia kerja, terserap di 9 lapangan usaha, yaitu : pertanian, pertambangan dang penggalian, industry, listrik, gas dan air, konstruksi, perdagangan, angkutan dan komunikasi, keuangan dan jasa.

(By Profil Kota Tanjungpinang 2009)

Sarana – Sarana di Kota Tanjungpinang

Transportasi

Di wilayah Kota Tanjungpinang, trasportasi laut memegang peranan yang sangat penting, baik sebagai angkutan penumpang maupun penyedia angkutan untuk barang dan jasa dari satu tempat ke tempat yang lain. Terdapat juga jalur internasional ke Singapore dan Malaysia. Transportasi laut juga memiliki rute keluar daerah seperti Bala Karimun, Batam, Bengkalis, Pekenbaru, Bangka Belitung, Jambi dan Jakarta. Sedangkan pelabuhan umum yang ada di kota Tanjungpinang anatara lain :

  1. Pelabuhan Sri Bintan Pura, merupakan pelabuhan penumpang baik domestik maupun internasional.
  2. Pelabuhan Sri Payung Batu Anam, merupakan pelabuhan untuk melayani kegiatan bongkar muat barang dan hewan baik antar pulau maupun ekspor – impor.
  3. Dermaga Plantar II dan Dermaga Si Jang merupakan pelabuhan untuk melayani kegiatan bongkar muat barang antar pulau.

Selain transportasi antar kota dan antar provinsi, transportasi laut juga digunakan untuk antar kota Tanjungpinang yang terletak di pulau Bintan dengan pulau Penyengat. Transportasi ini biasa menggunakan perahu temple atau disebut pompong. Sedangkan untuk angkutan darat dilayani di terminal AKDP batu 9. Angkutan udara juga tidak ketinggalan dengan ditambahnya panjang bandara Raja Haji Fisabilillah di Km, 12 menjadi jumlah penumpang yang datang maupun yang berangkat mencapai 63.299. Sdangkan pesawat udara yang datang dan berangkat pada tahun 2008 mengalami peningkatan dibanding tahun 2007 yaitu 1.660. Maskapai penerbangan yang melayani penerbangan dari Kota Tanjungpinang adalah Riau Airline, Sriwijaya Airline dan Batavia Airline.


Akomodasi

Di kota Tanjungpinang juga memiliki fasilitas penginapan atau kita sebut Hotel. Antara lain :

  1. Hotel Jojo Trump memiliki 25 kamar, tergolong class Melati 2.
  2. Hotel Furia, memiliki 79 kamar, tergolong class Melati 3.
  3. Hotel Sempurna Inn memiliki 50 kamas, tergolong class Melati 2.
  4. Hotel Sempurna Jaya memiliki 69 kamar, tergolong class Bintan 1
  5. Hotel Laguna memiliki 90 kamar, tergolong class Bintang 2.
  6. Hotel Bintan Permata Beach memiliki 120 kamar tergolong class Bintang 3.
  7. Hotel Comport memiliki 120 kamar tergolong class Bintang 3
  8. Hotel Pelangi memiliki 96 kamar tegolong class Bintang 3.

Kuliner

Secangkir teh tarik atau kopi tarik mengawali perjalanan wisata kuliner di kota Tanjungpinang. Kemudian manjakan lidah dengan lezatnya udang bakar, sotong bakar, otak-otak, soup ikan dan masakan laut lainnya.

  1. Melayu Square.
  2. Akau Laut Jaya Pelantar 2
  3. Ocean Corner
  4. Akau Potong Lembu
  5. Gurindam Square

Budaya

Masyarakat kota Tanjungpinang terdiri dari berbagai suku bangsa, multi etnis dan kultur. Dengan kentalnya budaya menjadikan kota Tanjungpinang adalah kota dengan sejuta budaya.

Dengan kemasan yang interaktif, tetapi tanpa tinggal menginggalkan makna yang terkandung didalamnya, budaya menjadi asset yang sangat potensial di sektor pariwisata.

Kesenian dan Kebudayaan

Kota Tanjungpinang memiliki suku bangsa dan budaya yang beragam, terdiri dari melayu, jawa, cina, bugis, sunda, minang, batak dan suku bangsa lainnya. Meskipun beragam, budaya melayu merupakan budaya asli dan merupakan ciri khas dari penduduk. Ketahanan suatu budaya terhadap pengaruh budaya asing perlu dijaga. Khususnya pada saat tidak ada lagi batas komunikasi antar dunia.

Keunikan budaya yang ada pada masyarakat merupkaan potensi yang dapat dikembangkan sedemikian rupa sebagai komoditas pariwisata. Hal ini tentu dengan tetap menjaga keletarian budaya masyarakat dan menghindari terjadinya eksploitasi budaya untuk kepentingan pariwisata.

Selain terkenal dengan Gurindam Dua Belasnya, Tanjungpinang juga memiliki kesenian yang lainnya, dari tarian tradisional sampai drama tradisional.

Salah satu tarian tradisional dari pulau Penyegat adalah Tarian Ya Umar. Pada Pagelaran RBM (Revitalisasi Budaya Melayu) yang berlangsung dari tanggal 15-20 Desember 2008, menjadi salah satu tarian yang ditampilkan. Dengan diselenggarakan RBM II di Kota Tanjungpinang, sebagai bagian utnuk memperkenalkan Tanjungpinang sebagai pusat budaya melayu.

Agenda RBM anatara lain welcome party, seminar budaya melayu, peraduan pantun, perkemahan budaya melayu, pergelaran kesenian dan parade puisi perumpun. RBM diikuti oleh berbagai daerah dan Negara tetangga serumpun.

DRAGON BOAT RACE

Salah satu olah raga yang populer dan menjadi agenda tahunan Kota Tanjungpinang adalah Dragon Boat Race atau Lomba Perahu Naga.

Dragon Boat Race meruapakan even tahunan yang dilaksanakan sejak tahun 2002 di Kota Tanjungpianang adapun tujuan dari kegiatan ini antara lain :

  1. Mengembangakan dan mempromosikan kegiatan olahraga, budaya dan pariiwisata di Provinsi Kepulauan Riau.
  2. Meningkatkan pembinaan potensi nasional menjadi kekuatan maritim di Provinsi Kepulauan Riau.
  3. Menggalakkan serta meningkatkan rasa cinta dan semangat bahari kepada masyarakat Indonesia umumnya dan masyarakat Provinsi Kepulauan Riau pada khususnya.
  4. Mendukung memeriahkan “Visit 2009” dan ditahun berikutnya.

Kegiatan Dragon Boat Race yaitu : Lomba Dayung Dragon Boat, Lomba Renang, Lomba Perahu Layar, Lomba Jong (Miniatur Perahau Layar) dan Lomba Selam. Lomba DBR di Kota Tanjungpinanh mempunyai ciri khas tersendiri, meskipun bertaraf internasional lomba DBR ini mengikuti aturan resmi dengan alasan tetap menjaga tradisi lomba. Ciri khas yang dipertahankan adalah “Memutar” dengan jarak tempuh 600 M, dimana pada 300 meter diharuskan memutar untuk menuju finish tetap pada jalur yang sama.

OBJEK – OBJEK WISATA DI KOTA TANJUNGPINANG

PULAU PENYENGAT

Pulau penyengat pada awalnya bernama Pulau Air Tawar dimana tenmpat orang-orang Eropa mengambil ait tawar dan kayu. Karena salah satu keunikan pulau ini adalah setiap pelaut membuat sumber air, maka air yang keluar adalah air tawar dan bukan air laut. Tidak seperti pulau-pulau lain sekitar pulau Penyengat. Dikisahkan, ketika Pulau Air Tawar, orang-orang Eropa tersebut diserang oleh segerombolan lebah yang dengan ganas menyerang dan menyengat. Nah, mulai saat itulah, Pulau Air Tawar berganti nama dengan sebuatan Pulau Penyengat. Di Pulau yang merupakan Mas Kawin Sultan Riau kepada Engku Hamidah ini.

Pulau Penyengat, dengan luas tidak lenih dari 3.5 km2. Pulau Penyengat ini terletak pada lokasi yang sangat strategis yaitu berada di sebelah barat Kota Tanjungpinang dan ditempuh dalam waktu kurun dari 15 menit dengan jalur trasportasi laut yaitu menggunakan pompong.

MASJID PENYENGAT

Mesjid ini didirikan pada tahun 1832, pada masa pemerintahan Yang dipertuan Muda Riau VIII Raja Abdurrahman (Marhum Kampung Bulang). Bangunan utama mesjid ini berukuran paling panjang sekitar 20 meter dengan lebar 18 meter yang di topang oleh 4 buah tiang betin. Di keempat sudut bangunan dibuat menara tempat bilal mengumandangkan azan. Adapun pada bangunan itu terdapat pula 13 buah kubah yang berbentuk seperti bawang. Jumlah keseluruhan menara dan kubah yang 17 buah itu diartikan sebagai jumlah rakaat shalat fardhu lima waktu sehari semalam. Ini adalah mesjid dengan kubah, menara, dan mimbar yang indah. Dalam pembangunannya digunakan putih telur yang dicampur kapur, pasir dan tanah liat untuk memperkuat struktur dinding/tembok.

Luas keseluruhan komplek bangunan ini adalah 54,5 m x 23,5 m, dengan padar tembok mengelilinginya. Pintu utama untuk masuk ke halaman mesjid berada di bagian depan, dengan 13 anak tangga. Disebelah kiri dan kanan bagian depan mesjid terdapat masing-masing sebuah bangunan yang disebut Rumah Sotoh.

Masjid Sultan Riau itu, senantiasa menjadi rumah ibadah yang diidam-idamkan oleh orang ramai, baik Nusantara maupun luar negeri untuk memasuki, shalat, berdoa dan memohon sesuatu kepada Allah. Masjid tersebut, dianggap sebagai rumah ibadah yang afdal dalam memohonkan sesuatu kepada Tuhan. Makanya, setiap orang yang datang ke Tanjungpinang, belumlah sempurna kalau tidak mengunjungi Pulau Penyengat lalu masuk dan shalat serta di berdoa di dalam masjid tersebut.

SENGGARANG

Dalam berbagai sumber disebutkan bahwa komunitas cukup besar dari orang-orang Cina di Riau bermula pada masa pemerintahan Daeng Celak, yakni Yang dipertuan Muda Riau II dalam tahun 1728-1745. Ketika itu sedang digalakkan pengembangan produk gambir sebagai salah satu komoditas ekspor yang cukup bernilai ekonomis tinggi. Orang-orang Cina banyak datang dan bekerja dalam bidang pengolahan gambir.

Menurut informasinya, pendatang Cina pada masa itu, kemudian oleh Yang Dipertuan Muda Riau II Daeng Celak, diberi kelonggaran untuk menempati Senggarang sebagai tempat kediaman atau pemukiman orang cina. Sejak saat itu pulalah, merekapun membangun kawasan itu sebagai perkampungan dan sejumlah rumah ibadah. Perhatian, semakin diberikan bagi pertumbuh-kembangan Senggarang ketika Daeng Kamboja menjadi Yang Dipertuan Muda Riau III. Malahan ada yang berpendapat, bahwa Senggarang adalah kawasan yang dikembangkan secara nyata sebagai kota kala itu oleh Daeng Kamboja.

Kemudian pada masa berikutnya, ketika Raja Haji sebagai Yang Dipertuan Muda Riau IV, berdatangan pula orang-orang Cina yang banyak dipekerjakan sebagai pembuat peluru/proyektil logam dan mesiu/sendawa (obat bedil) untuk kepentingan penguasa setempat.

Senggarang pun semakin berkembang menjadi lokasi pemukiman pendatang tersebut. Sejumlah komponen permukiman masa lalu yang masih dapat dijumpai di tempat ini anatara lain : tempat pemujaan (Vihara, Kelenteng atau Pekong), reruntuhan rumah tembok bertingkat, dan sumur tua.

Vihara Dharma Sasana

Menurut informasi dibangun sekitar 200-300 tahun yang lalu, oleh para imigrasi dari Cina daratan pada abad ke-18 M. Terdapat 3 bangunan utama pada kompleks Vihara ini, dua diantaranya merupakan bangunan awal berada di depan kompleks menghadap ke laut, sedangkan yang satu berada di belakang pada tanah yang lebih tinggi dibangun pada masa kemudian. Dua bangunan yang dibangun lebih awal dipruntukkan bagi dewa-dewa Cina, sedangkan bangunan yang lebih muda diperuntukkan bagi Sang Budhha Amitabha.

Kelenteng Fan Kong

Bangunan pemujaan ini diperuntukkan bagi Dewa Keadilan yang dipersonifikasikan oleh pemujaannya sebagai Hakim Bao, seorang pengadil pada masa kekuasaan Dinasti Ming.

The Bayan Tree Temple

Bangunan ini merupakan tempat peribadatan etnis Tionghoa yang menganut kepercayaan Kong Hu Chu. Bangunan peribadatan ini merupakan sisa bagian depan bangunan rumah tinggal seorang Kapiten Cina di daerah Tanjungpinang pada sekitar abad ke -18. Sisa-sisa struktur bangunan rumah ini yang masih dapat dilihat anatara lain adalah : tembok bata berspesi dan berlepa yang membujur. Diceritakan bahwa yang mula-mula menggunakan bagian tersisa dari rumah tinggal itu adalah seorang sinshe yang bernama Ta Hu Ti. Bangunan itu sudah berisia sekitar 200 tahun.

Kelenteng Tien Shang Miao

Kelenteng ini dibangun oleh Kapiten Cina Chiao Ch’en tahun 1811 dan Kelenteng Hsuan Tien Shang Ti Miao dibangun oleh Kapiten Cina Ch’en Heng Ch’in tahun 1821. Kelenteng tua ini sudah dililit oleh akar pohon kayu ara atau beringin. Meski demikian tetap terlihat menarik menampakkan sebagai benda cagar budaya.

(Panduan Benda Cagar Budaya Kota Tanjungpinang)

KEPULAUAN RIAU

Provinsi Kepualaun Riau adalah Provinsi dengan gugusan pulau-pulau yang berbatasan langsung dengan negara-negara Asean, yaitu : Singapore, Malaysia, Kemboja dan Vietnam. Provinsi ke -32 ini memiliki banyak keunikan, salah satunya adalah dari segi geografis yang sangat strategis, serta beragam seni dan budaya. Kepulauan Riau memiliki 2.408 pualau dan 7 Kabupaten / Kota, yaitu : Tanjungpinang, Batam, Bintan, Karimun, Natuna, Lingga dan Anambas. Dengan luas Wilayah 252.602 km2, dimana potensi bahari mendominasi hampir lebih dari 90%, yaitu 242.825 km2, menjadi Kepulauan Riau sanat kaya akan potensi wisata pantai, resort serta pesona alam bawah laut. Maka tidaklah mengherabkab, jika event bergengsi bertaraf internasional seperti Bintan Triathlon dan lomba foto bawah tanah laut setiap tahunnya digelar disini.

Kepulauan Riau tidak hanya kaya akan pesona alamnya saja, tetapi Provinsi sebagai asal muasal Bahasa Indonesia ini, juga sangat kaya akan seni budaya. Pantun tentunya tidak asing lagi buat Anda bukan? Namun, jangan sekali-kali Anda beradu pantun dengan masyarakatnya disini. Provinsi hasil pemekaran dari Provinsi Kepulauan Riau ini, saat ini menjadu daerah FTZ (Free Trade Zone) di Indonesia. Tiga wilayah utamanya, yaitu Batam, Bintandan Karimun siap untuk bersaing dengan negeri Singa (Singapore), Malaysia dan China. Meski menjadi daerah industri maju, namun kekayaan seni dan budaya serta pesona alamnya tidak akan tergadaikan.

( By Kepri The Beauty of Nature)